Arsitektur Ramah Lingkungan
Arsitektur yang berlandaskan pada pemikiran “meminimalkan penggunaan energi tanpa membatasi atau merubah fungsi bangunan, kenyamanan maupun produktivitas penghuninya” dengan memanfaatkan sains dan teknologi mutakhir secara aktif.
Dibawah ini akan dibahas 2 buah desain arsitektur yang memiliki konsep ramah lingkungan. Mengambil contoh dari sebuah bangunan komersil dan sebuah rumah tinggal.
The Green Building
Kenapa
gedung ini dapat di sebut gedung dengan konsep arsitekur ramah lingkungan.
Karena jika dilihat kembali, sudah terlihat pada bagian facad, sang arsitek
menggunakan material batubata. Maupun batu bata tidak bisa menjadi sebuah
pembanding, tapi setelah ditelusuri ternyata pada beberapa bagian batu bata
berasal dari bangunan aslinya yang di bongkar secara hati-hati dan di gunakan
kembali. Tidak hanya batu bata, kayu struktural dari bangunan aslinya di
gunakan kembali dengan cara di giling ulang dan di jadikan sebagai lantai dan
perabotan.
Setelah
penggunaan kembali material sebelumnya. Gedung ini juga mengefisiensikan
penggunaan air. Dengan cara, saat hujan air akan diserap di atap hijau (sebuah
atap dengan taman) lalu air-air yang diserap, dikumpulkan di dalam tong yang
kemudian di salurkan ke taman- taman di sekitar gedung.
Selain
itu, The Green Building ternyata dapat menghemat 30.000 pon CO2 per bulan,
lebih dari cukup untuk mengimbangi jejak karbon dari semua kendaraan
karyawannya. Berkat 81 panel surya, sebuah sistem penyimpanan es 1,100 galon,
dan dua belas sumur geothermal 225 kaki di bawah gedung.
Sang
arsitek juga mendaur ulang bahan-bahan yang digunakan pada bangunan aslinya
dengan digunakan kembali pada The Green Building serta dengan menyumbang ke
pekarangan setempat, perusahaan konstruksi, pertanian terdekat, dan Habitat
Restore for Habitat.
Dengan
beberapa poin diatas , sudah membuktikan bahwa benar gedung ini memiliki konsep
arsitektur ramah lingkungan.
Breathing House
Breathing
House merupakan salah satu bangunan dengan konsep arsitektur ramah lingkungan yang
berada di Indonesia. Karena indonesia berada di daerah tropis, maka desain
rumah harus dapat mengakomodasi iklim. Breathing House berfokus pada sumber
daya alam untuk penerangan dan ventilasi.
Rumah
ini sendiri terdiri dari 3 lantai.
Untuk lantai dasar digunakan sebagai area publik. Pada lantai dasar sang
arsitek membuat sebuah ventilasi besar dibeberapa area yang memiliki skylight
dibagian atasnya supaya dapat ‘bernapas’ secara alami. Serta terdapat kolam
berenang dalam ruangan dibawah skylight, yang berguna untuk menurunkan suhu
ruangan secara alami.
Pada
lantai 3, sang arsitek membuat sebuah taman atap yang digunakan sebagai tempat
terbuka tambahan untuk melakukan kegiatan diluar serta acara keluarga dengan
memanfaatkan penghawaan yang alami.
Ternyata
sang aristek menggunakan bahan alami dan hijau seperti batu bata, Gain
Reinforced Cement (GRC), dan juga mendaur ulang logam dieksplorasi untuk
memiliki desain baru kontemporer.
Saat
hujan tiba, rumah tinggal ini bekerja mandiri dengan cara menampung serta
menyimpan air hujan. Sehingga air hujan dapat digunakan untuk menyiram tanaman
di kebun dan mencuci mobil.
Breathing
House tidak hanya mengusung pada pemanfaatan skylight serta penghawaan alami
yang sehingga dapat menghemat energi. Tetapi juga dengan cara meminimalisir
penggunaan air sehingga dapat menghemat penggunaan air.
Dengan
beberapa poin diatas dapat dilihat bahwa Breathing House merupakan salah satu
desain rumah modern yang menggunakan konsep arsitektur ramah lingkungan.
Arsitektur dan Lingkungan.


Komentar
Posting Komentar